Nias | Mar24News.com : Tehezatulo Waruwu (Mahasiswa Universitas Sari Mutiara
Medan).
Memasuki tahun ajaran baru, dinamika pendidikan dasar di
Indonesia sedang mengalami pergeseran yang sangat menarik sekaligus kontras. Di
satu sisi, kita disuguhi dengan kebijakan kurikulum baru yang futuristik dan
progresif. Di sisi lain, potret riil di lapangan menunjukkan tantangan
demografis, sosial, hingga ketimpangan infrastruktur yang masih sangat
menganga.
Bagaimana wajah pendidikan dasar kita saat ini beradaptasi
dengan tren baru di tengah keterbatasan fasilitas yang nyata?
1. Era Deep Learning : Belajar Lebih Sedikit, Paham
Lebih Dalam
Arah kebijakan Kemendikdasmen kini beralih ke konsep Deep
Learning (Pembelajaran Mendalam). Sesuai dengan Permendikdasmen No. 1 Tahun
2026, fokus utamanya bukan lagi seberapa banyak rumus atau hafalan yang
dijejalkan kepala anak, melainkan seberapa bermakna ilmu tersebut bagi
kehidupan mereka sehari-hari.
Metode Deep Learning
ini bertumpu pada tiga pilar utama:
· Mindful
(Sadar): Siswa diajak memahami sepenuhnya mengapa mereka harus mempelajari
suatu topik, bukan sekadar patuh pada perintah guru.
· Meaningful
(Bermakna): Pembelajaran dikaitkan langsung dengan konteks kehidupan nyata di
sekitar anak, bukan teori abstrak di atas kertas.
· Joyful
(Menyenangkan): Menciptakan suasana belajar yang interaktif, menantang secara
kognitif, namun tetap ramah terhadap kondisi psikologis anak.
Secara teori, pendekatan ini sangat bagus karena berupaya
menggeser peran guru dari sekadar "penceramah tunggal" menjadi
fasilitator yang menghidupkan suasana kelas.
2. Paradoks Digital di Pelosok: Listrik Menyala,
Sinyal Tiada
Namun, ketika sekolah-sekolah di kota besar mulai sibuk
membahas integrasi kecerdasan buatan (AI) dan penggunaan papan tulis digital,
sekolah dasar di daerah pelosok justru mengalami situasi paradoks yang
membingungkan.
Banyak sekolah di daerah terpencil kini sudah bisa bernapas
lega karena listrik PLN sudah masuk dan menyala. Namun, kebahagiaan itu
langsung terbentur kenyataan pahit: jaringan internet atau sinyal seluler sama
sekali tidak ada (blank spot).
Ironi di Ruang Kelas: Chromebook, laptop, atau tablet
bantuan pemerintah sering kali berakhir tersimpan rapi di dalam lemari dan
berdebu. Alat-alat canggih itu hanya bisa digunakan untuk mengetik dokumen
luring (offline) atau menyalakan
proyektor untuk menampilkan materi statis. Guru-guru di pelosok juga kesulitan
mengakses platform pelatihan mandiri digital karena keterbatasan kuota dan
ketiadaan sinyal di area sekolah.
Kondisi ini mencapai puncaknya saat pelaksanaan Asesmen
Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Demi mendapatkan secuil sinyal untuk
mengirim data ujian, para guru dan murid harus melakukan "perjalanan
dinas" darurat. Mereka terpaksa menumpang ke desa tetangga, naik ke atas
bukit, atau berkumpul di titik tertentu di pinggir jalan raya yang kebetulan
terjangkau sinyal provider seluler. Di sini, menyalanya listrik PLN seolah
hanya menjadi penghibur lara di tengah sunyinya jaringan komunikasi.
3. Kontras Ekstrem:"Krisis Murid"Kota
vs"Krisis Fasilitas"Pelosok
Di balik perjuangan infrastruktur di pelosok, wilayah
perkotaan dan pinggiran justru sedang menghadapi tantangan demografis yang
tidak kalah pening: krisis murid baru di Sekolah Dasar Negeri (SDN).
Pada penerimaan siswa baru (PPDB) kali ini, sejumlah daerah
dihebohkan dengan kabar SDN yang hanya mendapatkan 2 hingga 4 siswa baru,
bahkan ada beberapa yang sama sekali tidak mendapatkan murid sama sekali.
Fenomena kontras ini disebabkan oleh beberapa faktor:
· Penurunan
Angka Kelahiran: Tren jumlah anak usia sekolah di beberapa wilayah perkotaan
memang mengalami penurunan alami akibat suksesnya program keluarga berencana
dan perubahan gaya hidup.
· Pergeseran
Kepercayaan: Orang tua kelas menengah ke bawah sekalipun kini cenderung lebih
memilih sekolah swasta atau madrasah. Sekolah-sekolah tersebut dianggap
menawarkan fasilitas teknologi yang lebih pasti, fleksibilitas program, serta
pembentukan karakter keagamaan yang lebih intensif.
· Ketidaksesuaian
Lokasi: Banyak bangunan SDN yang didirikan puluhan tahun lalu kini berada di
kawasan yang telah berubah menjadi pusat bisnis atau perkantoran, sehingga
kehilangan lingkungan permukiman penduduk beranak usia SD.
4.
Membumikan Kurikulum Lewat Kearifan Lokal
Di
tengah keterbatasan sinyal, guru-guru di pelosok sebenarnya memiliki modal
besar untuk menerapkan Deep Learning
secara alami. Karena tidak bisa mengandalkan YouTube atau Google, proses
belajar justru bisa dikembalikan ke alam.
Prinsip
Meaningful (Bermakna) bisa diwujudkan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar
sebagai laboratorium raksasa. Murid-murid diajak menghitung hasil panen di
sawah, mengamati ekosistem hutan di dekat sekolah, atau mempelajari struktur
sosial masyarakat adat setempat. Pembelajaran seperti ini jauh lebih membekas
di benak anak dibandingkan hanya menatap layar gawai. Namun, kreativitas guru
ini tetap membutuhkan apresiasi dan dukungan sistematis dari pemerintah agar
mereka tidak merasa berjuang sendirian.
Kesimpulan: Menuju Pemerataan yang Adil
Tantangan pendidikan dasar kita hari ini memiliki dua wajah
yang sangat bertolak belakang. Di perkotaan, masalahnya adalah persaingan
kualitas sekolah dan perubahan demografi. Sementara di pelosok, masalahnya
adalah hak dasar pemenuhan fasilitas komunikasi yang belum merata.
Pemerintah kini dituntut untuk tidak hanya fokus menelurkan
kurikulum baru yang muluk-muluk, tetapi juga menuntaskan masalah blank spot dan
ketimpangan fasilitas. Program penguatan karakter seperti "Tujuh Kebiasaan
Anak Indonesia Hebat" (7KAIH) serta penciptaan lingkungan sekolah yang
aman dan bebas perundungan harus berjalan selaras di seluruh penjuru negeri.
Pendidikan dasar adalah fondasi pertama bagi masa depan
bangsa. Kurikulum secanggih apa pun tidak akan berdampak maksimal jika guru di
pelosok masih harus memanjat pohon atau naik ke bukit demi mencari sinyal untuk
mengirim laporan mengajar mereka. Menyelaraskan tren metode belajar baru dengan
penyediaan infrastruktur yang adil dan merata adalah satu-satunya jalan agar
tidak ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal di belakang.


